KALAU kita mencermati kehidupan masyarakat kita sekarang ini kita harus merasa prihatin. Akibat dari krisis ekonomi yang berkepanjangan yang melanda kehidupan kita, disusul krisis keuangan global, jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan semakin besar. Mereka hidup dalam bayangan kelaparan memilukan, apalagi harga barang-barang kebutuhan pokok cenderung naik, ditambah adanya ancaman berbagai macam penyakit, seperti flu burung, demam berdarah dan sebagainya. Situasi ini semakin diperburuk dengan terjadinya musibah gempa bumi, banjir, tanah longsor, angin puting beliung dan sebagainya di berbagai daerah.
Melihat keadaan ini, mestinya hati kita terpanggil untuk mengurangi dan meringankan penderitaan mereka dengan jalan menyisihkan sebagaian rezeki yang kita terima untuk membantu dan menolong mereka, bukan sebaliknya bersikap acuh tak acuh, tidak perduli dan bersikap kikir terhadap mereka.
Kikir adalah merupakan sebuah sikap mental yang harus kita jauhi. Sikap mental kikir selain akan mendatangkan kerugian bagi orang lain, juga akan menjerumuskan diri sendiri ke lembah kehinaan. Oleh karena itulah, Rasul Allah Muhammad saw mengajarkan, agar kita selalu berdoa, mohon kehadirat Allah SwT, dilindungi dari memiliki sikap mental kikir dan sikap mental lain yang merugikan. Doa itu, yang oleh Nabi dianjurkan untuk dibaca pada setiap kesempatan adalah sebagai berikut: ìYa Allah, aku berlindung kepada-Mu dari sikap mental hammi atau ragu-ragu, khuzni atau duka cita, ëajzi atau lemah, kasli atau malas, bukhli atau kikir, jubni atau penakut, dililit hutang dan intimidasi orang lainî.Kikir atau bakhil adalah merupakan keadaan jiwa seseorang yang menyebabkan ia mempunyai sikap atau kelakuan menahan atau tidak bersedia memberikan sesuatu, yang seharusnya diberikan. Seseorang yang oleh Allah SwT dikaruniai nikmat berupa harta kekayaan yang melimpah misalnya, seharusnya jiwanya tergerak untuk mengeluarkan zakat, infak shadaqah dan sebagainya, guna menyucikan hartanya sendiri dan sekaligus meringankan beban orang yang tidak berkemampuan dan memberikan manfaat kepada masyarakat. Tetapi dalam praktik, seseorang yang telah dikaruniai harta kekayaan yang melimpah itu justru tidak bersedia mengeluarkan zakat dan infaknya. Jiwanya tidak tergerak, bahkan merasa berat dan sayang mengeluarkan sebagian hartanya untuk diberikan secara cuma-cuma kepada orang lain. Keadaan jiwa serupa itu, yang muncul kepermukaan dalam bentuk sikap atau kelakuan menahan harta yang seharusnya diberikan kepada mereka yang berhak menerimanya, inilah yang disebut sikap mental kikir atau bakhil itu. Demikian pula disebut kikir, seseorang yang punya kelebihan harta, tetapi sama sekali ia tidak bersedia mengulurkan tangan, memberikan bantuan dan pertolongan kepada orang lain yang menghajatkan pertolongan.
Termasuk juga, dalam pengertian kikir atau bakhil adalah seseorang yang dikaruniai ilmu pengetahuan dalam berbagai macam disiplin, tetapi ia enggan dan tidak bersedia mengajarkan dan menyebarkannya kepada orang lain yang memerlukan. Jiwanya sedikit pun tidak merasa terpanggil untuk memberantas kebodohan dan keterbelakangan yang melanda masyarakat di sekitarnya. Demikian pula, termasuk dalam kategori sikap mental kikir atau bakhil, adalah seseorang yang memiliki keahlian dan ketrampilan tertentu, tetapi ia tidak bersedia memberikan bantuan dan pertolongan kepada orang yang benar-benar memerlukan pertolongan, hanya karena orang tersebut tidak mampu memberikan imbalan yang cukup atas jasa yang telah diberikannya itu.
Juga, termasuk dalam pengertian kikir atau bakhil, adalah seseorang yang dikaruniai hidayah atau petunjuk dan seseorang yang mengerti kebenaran, tetapi ia tidak bersedia menerangkan kebenaran itu kepada orang lain, bahkan sengaja menggelapkannya, padahal masyarakat sangat menghajatkan keterangan dan penerangan. Orang-orang Yahudi tempo dulu, tidak bersedia dan enggan memberikan keterangan kepada kaumnya tentang kedatangan Nabi dan Rasul Allah terakhir, yaitu Nabi Muihammad saw. Bahkan mereka sengaja menggelapkan keterangan Allah SwT dalam kitab suci mereka tentang akan datangnya Nabi dan Rasul penutup itu. Sehingga, banyak sekali kaumnya yang tidak sempat mendapatkan keterangan tentang hidayah Islam, dapatlah dikategorikan sebagai sikap mental kikir atau bakhil juga.
Sikap mental kikir atau bakhil, terhadap harta misalnya, dapat tumbuh dan berkembang pada diri seseorang, ini disebabkan oleh berbagai macam faktor. Antara lain adalah akibat dorongan nafsu memiliki dan menguasai harta kekayaan secara berlebihan. Orang yang kikir tidak menyadari, bahwa dengan sikapnya itu, ia akan mendapatkan banyak kesulitan dan kerugian, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Orang yang kikir, betapa pun tinggi pangkat dan kedudukannya dan betapa pun melimpah harta kekayaannya, masyarakat akan menjauhinya. Dalam kehidupan sehari-hari, ia akan dipencilkan. Bila pada suatu ketika ia mengalami kesulitan, maka tidak ada seorang pun yang sudi dan bersedia menolongnya. Kalaupun ada yang bersedia membantunya, adalah semata-mata dengan maksud menjilat atau mencari keuntungan tertentu, tidak didasarkan pada keikhlasan dan rasa simpati. Sedang di akhirat kelak, jelas harta kekayaan yang dikikirkannya itu akan menjadi beban dan menambah lebih beratnya siksa dan azab Allah. Naíuzubillah.l
A. ROSYAD SHOLEH ( Sekretaris Umum PP. Muhammadiyah )
Sumber : Suara Muhammadiyah / Januari 2009 http://suara-muhammadiyah.com/2009/?p=127
| Next > |
|---|

