Ibadah Qurban merupakan ritual keagamaan yang sarat nuansa simbolik-metaforis, sebagaimana terabadikan dalam Q.S. Al Shaafat (37): 102-107). Kisah awal mula pensyariatannya seakan mampu menggetarkan jiwa-jiwa para penganut monoteisme. Pengalaman rasional-spiritual yang dapat mengantarkan kepada keyakinan tentang tauhid sebagai kebenaran hakiki.

Melalui syariat kurban, Allah s.w.t  memberikan banyak pelajaran kepada ummat manusia. Pertama, kurban itu menguji apa dan siapa sebenarnya yang menjadi tujuan hidup manusia. Apakah harta, seperti ujian bagi anak-anak Adam (Habil-dan Qabil) atau kecintaan kepada anak (ujian bagi Ibrahim), atau kecintaan kepada Allah?

Kedua, kurban adalah ujian tentang ketulusan, keikhlasan, dan kesabaran menghadapi berbagai dinamika kehidupan, terutama perhatian dan kecintaannya kepada sesama manusia sebagai makhluk Allah.

Bagi orang-orang yang beriman, ibadah kurban tentu saja sejatinya menjadi tols of idiologi untuk menyatukan visi spiritual ummat. Selain itu, qurban juga menjadi media pembeda (distingsi) satu agama dengan agama lainnya. Dan yang paling utama tentu saja seperti diungkapkan diawal tadi bahwa qurban merupakan ekspresi ketauhidan, bahwa kita ”Sami’na wa atha’na” lebih mencintai Allah ketimbang harta dan anak-anak.

Ditengah merosotnya idealisme, pemaknaan ritual ibadah qurban secara total tersebut memang menjadi hal yang langka saat ini. Utamanya karena pragmatisme justru malah menjadi fenomena keseharian ummat.

Celakanya, dekadensi nilai tersebut menyeruak dihampir semua sisi kehidupan, tak cuma dalam dunia bisnis semata tapi juga dalam hidup bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dimana materi telah menjadi ukuran yang menentukan semua hal. Korupsi meraja lela, suara jerit kaum fakir miskin dan rakyat jelata seakan tak terdengar lagi. Sementara para pemimpin bangsa (eksekutif, legislatif dan yudikatif) malah tampak asyik meributkan kenaikan gaji mereka.

Tatkala nabi Ibrahim a.s mendapat ujian untuk menyembelih sang anak terkasih, Ibrahim patuh, taat dan berserah diri kepada Allah. Begitu juga Ismail, puteranya, pasrah dan bersabar. Kalimat yang keluar dari mulut kedua orang suci itu hanyalah takbir, tahlil, dan tahmid.

Kalimat-kalimat tersebut adalah simbol pengagungan nama Allah (Allah Akbar) bukan pengagungan kekuasaan, jabatan dan harta benda. Mengesakan Allah (Laailaaha illallah), tidak memberhalakan materi, kehormatan dan kebesaran dunia. Walilaahi al hamd, segala pujian yang diberikan kepada kita pada hakikatnya adalah milik Allah. Ibadah qurban adalah ritual tahunan yang maknanya mengingatkan kembali kepada kita bahwa hidup adalah pengurbanan dan perjuangan.

Ibadah qurban tahun 1430 H ini didahului dengan rentetan gempa. Gempa berkekuatan 7,3 SR mendera di Jawa Barat, 2 September 2009. Sekitar tiga minggu kemudian, 30 September 2009, gempa 7,6 SR membuncah di ranah Minang. Rentetan gempa tentu menyisakan duka yang mendalam bagi para korban. Tentu juga duka kita semua. Belum lagi akibat langsung dari keserakahan dan sikap materialisme manusia, kebakaran hutan, banjir dan tanah longsor tak terelakan terjadi dimana-mana.

Untuk itu tepatlah kiranya jika Qurban 1430 H ini dijadikan sebagai momentum untuk meningkatkan solidaritas ummat, utamanya bagi para korban bencana sesuai berdasar atas anjuran nabi Muhammad diatas. “Tema qurban Lazis Muhammadiyah tahun 1430 H ini, Qurbanku untuk para Korban. Melalui kurban, Lazis Muhammadiyah ingin berbagi kebahagiaan dengan para korban bencana gempa,” kata Program Manager Lazis Muhammadiyah Hari Eko Purwanto.

Turunan terpenting pemaknaan ibadah qurban bagi orang mukmin adalah timbulnya kepekaan terhadap penderitaan sesama mukmin. Ini berpangkal kepada ajaran Rasulullah saw bahwa daging qurban itu dibagi dan didistribusikan menjadi tiga kategori. Satu bagian untuk keluarga yang berkurban, satu bagian untuk tetangga dan teman, dan satu bagian lagi untuk orang-orang miskin baik yang meminta-minta maupun yang tidak meminta-minta.

Oleh karena itu, selain membahagiakan para korban bencana, lanjut Hari Eko Purwanto, melalui qurban juga diharapkan masyarakat bisa melupakan duka gempa. Masyarakat akan berbaur dengan masyarakat lain melalui kegiatan kurban. “Mulai dari penyembelihan, bahkan makannya juga akan bersama-sama,” tukasnya. “Semoga kecintaan kepada Allah dalam bentuk kepedulian kita terhadap korban bencana gempa akan semakin terbangun.”

 (Zoel, Mrf)