“Coba dites..., hapalan surat-surat pendek, siapa yang bisa....”, seru Rohendi.  “Saya..sayaaa..sayaaa...”, jawab serempak puluhan santri TPA musholla Al-Muhajirin Bantar Gebang, sore itu.

Sang reformis  bagi pemulung

Rohendi berdiri mengacungkan tangan kanannya, bercampur tawa lepas dan rasa bangga di tengah teriakan anak-anak usia 4-10 tahun. Mereka adalah anak didik Rohendi yang merupakan bagian dari komunitas keluarga pemulung Ciketing Udik. Begitulah keseharian murid TPA/TPQ Al-Muhajirin Bantar Gebang menjelang sore hari sepulang dari sekolah.

Ruang persegi berukuran 3 x 3 meter itu, menjadi saksi perjuangan ‘sang reformis bagi pemulung’. “Kita sudah tidak ada donatur lagi,” nada suaranya terdengar agak pelan. Selama 3 bulan terakhir para donatur memutuskan infaqnya. Donatur selalu rutin memberikan tambahan uang saku bagi guru-guru Taman Pendidikan al-Quran (TPQ). Guru- guru itu juga alumni TPQ.

Istrinya, Ummi Kultsum, pak Totok (juragan sembako), dan pak Alif (anggota serikat buruh pabrik) terdiam di sudut ruang  bersama Rohendi. Mereka adalah para penggerak sekaligus ‘pembaharu’ Musholla Al-Muhajirin, desa Ciketing Udik, Bantar Gebang.

“Guru-guru TPQ bisa-bisa ngga dapat uang bulanan lagi”, pancaran mukanya agak aneh, berubah senyum nyinyir, disambut tatapan kosong. Hanya musholla inilah yang menggratiskan anak-anak untuk belajar Al-Qur’an

Musholla Al-Muhajirin terletak 300 meter arah selatan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bantar Gebang. Musholla ini sedang dalam tahap renovasi, bahkan terancam digusur. Pengelolanya sedang mengusahakan agar musholla ini tetap dipertahankan.

Sederhana, pikir Rohendi, jika Musholla itu musnah, maka ruang publik bagi anak-anak belajar akan sirna juga. Tidak hanya menampung anak-anak yang ingin belajar agama, namun Musholla ini baru saja dijadikan ‘lokasi khusus’ untuk shalat Jum’at. Selain diramaikan aktiftas ibadah dan pendidikan, pendidikan formal seperti TK pun tersedia bagi anak asuh Musholla ini. Letak TK itu hanya beberapa langkah dari musholla, terhalang 3 rumah ke arah selatan.

Puluhan anak-anak TPQ Al-Muhajirin sanggup menghafal surat-surat dalam al-Quran. “Kak Hendi yang ngajarin,” seru Endeh, siswa kelas 6 SD, juara pertama lomba Tahfidz Qur’an mewakili TPQ Al-Muhajirin saat festival Ramadhan 1429.

Hawa panas bercampur gas metana menyeruak dibalik dinding musholla. “Sudah biasa, sepuluh tahun tidur dalam gubuk bersama sampah”, senyumnya yang lepas diteruskan dengan tawa kecilnya.

Kebiasaannya, mulai jam 4 dini hari, Rohendi mengantarkan ibu-ibu belanja ke pasar. Ia bonceng di atas motornya. Rupiah kecil pun diterimanya. Menjelang terik matahari, ia mulai rapihkan sampah-sampah ‘duit’. Ia pilih dan pisahkan lalu ditimbang, begitu seterusnya. Tujuannya agar ekonomi keluarga bisa lancar.

Bayang-bayang semakin memanjang, Rohendi menuju ‘sekolah khusus’ binaannya. Seketika kehadiraannya dikeroyok 70-an murid-murid TPQ.

Demikian aktivitas Rohendi. Dirinya telah mengingatkan sosok pak Harfan dalam novel LASKAR PELANGI. Ruhnya telah mengaliri semangat Rohendi mendidik anak-anak pemulung.

“Pendidikan itu harus diutamakan, lalu kesehatan, saya ingin mereka mendapatkan itu semua,” sautnya dengan senyum ramah.

Rohendi kini telah menjadi ‘laskar’ pendidik, namun namanya kurang menyengat. Kesulitan baginya adalah berkah HIDUP yang harus dijalani dengan sungguh-sungguh serta niat ikhlas.(WENY)