SEJAK bulan Desember 2007, seorang kepala desa, sekaligus guru juga da'i ini terpaksa harus meninggalkan desa Karlutu, Seram Utara, Maluku Tengah untuk menyesembuhkan luka di bagian kepalanya. Luka itu akibat penganiayaan oleh sekelompok pemuda dari masyarakat adat setempat. Atas perjuangannya dan kerja kerasnya itu, LAZIS Muhammadiyah memberikan santunan kepadanya karena ia merupakan golongan ibnu sabil.

Dalam kisahnya, Bambang Subastian (47 tahun) menceritakan peristiwa mengerikan yang membuat dahi bagian atasnya itu mengalami luka serius. Bermula ketika ia baru pertamakali menjadi warga baru transmigran inti Yogyakarta yang dipindahkan ke daerah Seram Utara. Desa yang menjadi tempat tinggalnya itu diakui salah satu tokoh adat setempat dan tidak mau menerima kewilayahan daerah adatnya tersebut menjadi bagian dari desa perintis. Karena mereka (masyarakat adat) masih menginginkan desanya berstatus Angkatan Penduduk dari Desa Tertinggal (APDT).

Sampai suatu malam, sepulangnya dari desa sebelah, bapak dua anak ini dihadang sekelompok pemuda. Ia digiring masuk ke dalam hutan, dan terjadi adu mulut. Pak Bambang hanya bisa berdiam. Tiba-tiba, pukulan jurus seribu tangan menghantam muka dan bagian dada dan perutnya hingga lemas. Dalam konsidi setengah sadar, ia diseret ke sebuah pondok lalu kedua tangannya diikat ke atas bambu kerangka pondok tersebut.
Beruntung, selama beberapa hari tergantung, kepala desa yang dilantik sejak 1998 dan akan berakhir 2008 ini, kemudian ditolong oleh seorang penduduk yang kebetulan lewat, kemudian melaporkan penyekapan itu ke pihak berwenang. Saat anggota wanra dan beberapa penduduk lainnya berusaha membebaskan Pak Bambang, di sana sempat terjadi baku senjata. Hingga sebilah tombak mengenai kepalanya. Alhamdulilah, ia masih bisa ditolong untuk kemudian dibawa ke Rumah sakit terdekat.

Sesampainya di rumah sakit tenyata pihak dokter menyarankan berobat ke RSCM Jakarta. Guru SD Inpres Karlutu ini kemudian mengurus berbagai persyaratan agar mendapatkan keringanan biaya perjalanan. Meski biaya pengobatan ditanggung pemerintah. Namun, karena penghasilannya juga sangat pas-pasan, ia membutuhkan biaya akomodasi selama pengobatan di Jakarta. Selama tujuh hari perjalanan menggunakan kapal laut, ia bertekad untuk bisa sembuh.

Pria lulusan D3 PLS (Pendidikan Luar Sekolah) ini menuturkan, sesampai di RSCM pihak rumah sakit tidak langsung memberikan penanganan intensif. Kesabarannya sedang diuji oleh Allah SWT. Walau kepalanya terasa sakit yang luar biasa, ia tetap bertahan, tabah dan sabar melaluinya. Setelah hari kedua, pria kelahiran Yogyakarta 10 Pebruari 1961 baru mendapatkan perawatan sebagaimana mestinya dan langsung ditangani serius. Ternyata peralatan di RSCM tidak memadai melakukan operasi laser untuk menyambung syaraf dan tengkorak Pak Bambang. Akhirnya ia pun di rujuk ke rumah sakit Dr. Sarjito, Yogyakarta.

Hingga pada tanggal 15 Mei lalu, pria bertubuh tegap dan bersuara syahdu ini bersilahturahmi ke LAZISMU di gedung dakwah Muhammadiyah. Kemudian ia mengisahkan peristiwa yang dialami. Atas pertimbangan bahwa ia merupakan golongan ibnu sabil, maka LAZISMU memberikan bantuan untuk memenuhi kebutuhan selama perjalanan. Ternyata untuk mengabdikan diri kepada masyarakat membutuhkan tekad kuat dan semangat yang tinggi. Begitulah sosok pemimpin umat yang harus di contoh pemimpin bangsa kita. (Ihsan)