SALAH satu sumber utama masalah bangsa adalah kemiskinan. Tengoklah ke sekeliling kita. Tragedi terjadi akibat kemiskinan di beberapa wilayah di Indonesia. Belum lama ini, Bahtiar, seorang ayah di Bekasi, tega memasung putrinya, Ningsih yang masih balita selama dua tahun. Hal itu dilakukan Bahtiar lantaran ia tak mampu memberikan perawatan khusus pada putrinya yang mengidap epilepsi. Di beberapa daerah, bahkan di dekat perkotaan, banyak anak kurang gizi dan busung lapar. Kejahatan merajalela. Banyak orang bunuh diri karena tak mampu membayar utang. Dan, banyak lagi kasus lain yang memilukan hati. Menyaksikan itu, tentu kita tak boleh berpangku tangan. Di sini kita dituntut untuk membahagiakan mereka yang susah. Karena prinsipnya, jika orang lain bahagia karena kita, secara naluriah kita adalah yang paling bahagia. Inilah filosofi berbagi kepada sesama. Namun, berbagi saja tidak cukup. Sebab kemiskinan sangatlah kompleks. Kemiskinan tidak akan pudar hanya dengan memberi makan orang miskin. Kemiskinan harus dihapus dengan sistem yang baik dan terencana secara matang.
Maka perlu ada lembaga yang mampu memfasilitasi ini. LAZISMU adalah jawabannya. Salah satu misi LAZISMU adalah sebagai lembaga filantropi yang terpercaya. Karena itu LAZISMU menggunakan sistem untuk memanaj kepercayaan masyarakat (yang mau berbagi) secara profesional.
LAZISMU adalah lembaga filantropi yang memiliki misi, mendayagunakan masyarakat dengan trobosan-trobosan program yang terus diperbaharui. Sistem tersebut adalah Pengembangan Ekonomi Masyarakat (PEM). PEM akan menjawab persoalan ekonomi di level bawah masyarakat. Program ini dirinci menjadi empat program turunan, yaitu: Micro Finance Development (MFD), Kampung Kreatif (KK), Youth Entrepreneurship (YE), dan Peternakan Masyarakat Mandiri (PMM).
Tujuan dibuatnya sistem ini adalah untuk membangun masyarakat miskin, di mana mereka menjadi pelaku dan tidak menjadi penerima yang pasif. Dalam hal ini, LAZISMU berfungsi sebagai fasilitator yang memberikan informasi dan menyediakan sarana dengan tujuan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.
Dalam usahanya membangun masyarakat miskin, LAZISMU tidak mengenal istilah profit. Untuk membangun kemandirian mereka, LAZISMU akan memperlakukan mereka secara bijak, sesuai dengan kondisi dan kemampuan mereka. Sehingga, mereka bisa menjalankan usaha secara leluasa dan kreatif. Karena di sini, LAZISMU tidak sekadar memberikan modal, tetapi membimbing dan mendampingi.
Harapannya, mereka bisa hidup sejahtera bukan karena diberi ‘ikan’, tetapi diberi ‘kail dan umpan’ untuk menjadi berdaya. LAZISMU tidak memberikan uang secara langsung seperti kepada orang yang sudah dhuafa, melainkan kepada masyarakat miskin yang mampu untuk diajak menjadi berdaya.
| Next > |
|---|

